29
Dec

Cara Mengatasi Breakout Jerawat Sedaerah

Jerawat sudah menjadi masalah umum di segala usia, terutama di usia remaja, tetapi yang lebih parah adalah ketika terjadi breakoutBreakout adalah ketika muncul banyak jerawat dan terkumpul di suatu area. Tak ada kejelasan 100% apa penyebab jerawat, tetapi para pakar beranggapan bahwa pemicunya bisa karena stres, hormon, dan iritasi kulit. Untungnya ada banyak cara mengatasi situasi breakout ini. Memang takkan sekejap hilang, tetapi dengan merawat breakout ringan minimal kamu bisa segera pulih dan pede lagi!

1

Cuci muka dengan lembut. Gunakan tangan daripada kain untuk menghindari iritasi. Gunakan juga jenis pembersih yang lembut dan air hangat karena air panas bisa membuat kulit kering dan iritasi.[1]

  • Cuci muka dua kali sehari, sekali di pagi hari dan sekali lagi di malam hari (setelah membersihkan make-up bagi wanita). Jangan terlalu sering mencuci muka karena justru akan menyebabkan iritasi dan memperparah breakout.
  • Gunakan pembersih yang lembut/mild. Daerah kulit yang sering berjerawat adalah daerah sensitif, maka itu perlu sabun atau pembersih yang lembut bagi kulit. Pilihlah jenis produk yang mild atau untuk kulit sensitif, dan kalau bisa jenis yang tanpa parfum (kadang ditulis unperfumed di label/kemasannya).
2
Keringkan muka pelan-pelan dengan handuk dan gunakan pelembap. Gunakan handuk yang benar-benar lembut bahannya dan cukup ditepuk-tepukkan ke wajah hingga kering, tak perlu sampai digosok. Lalu pakailah pelembap nonkomedogenik (tak menimbulkan komedo), jenis pelembap ini tidak menyumbat pori-pori.[2]
3

Cobalah ramuan/obat tradisional. Coba tengok isi dapur sebelum membeli obat jerawat yang mahal. Walau tak ada buktinya secara ilmiah tetapi banyak orang percaya ada beberapa obat tradisional yang cukup ampuh.

  • Apapun perawatan atau obat yang kamu pilih, awasi segala tanda-tanda iritasi kulit. Bila terjadi radang, iritasi atau kulit menjadi kering, segera hentikan perawatan dan temui dokter ahli.
  • Sari lemon termasuk salah satu obat tradisional. Basahi kapas dengan sari lemon murni (tanpa campuran gula, ini untuk pengobatan bukan untuk diminum), lalu oleskan dengan lembut ke area kulit yang rawan jerawat. Biarkan selama 30 menit, lalu bilas dengan air sejuk. Sari lemon bisa membunuh bakteri yang menyebabkan jerawat, selain juga merupakan cara alami untuk membersihkan kulit dari sel kulit mati dan bisa mencerahkan kulit sehingga tanda-tanda jerawat sedikit tersamar.[3]
  • Madu juga dikenal sebagai bahan antiseptik dan pembunuh bakteri. Madu bisa langsung dioles ke kulit, dibiarkan sejenak, lalu dibilas air (seperti sari lemon di atas); atau kamu juga bisa membuat masker madu. Cara membuat masker madu: campurkan madu dengan susu, sari apel, yoghurt murni, sari lidah buaya, dan/atau putih telur; oleskan ke wajah, biarkan sejenak, lalu bilas dengan air.[4]
  • Jangan mengoleskan pasta gigi ke kulit karena sebenarnya bisa menyebabkan jerawat dan alergi. [5] Bubuk aspirin juga bisa menyebabkan iritasi kulit.[6]
4

Gunakan obat yang sesuai. Hampir semua toko yang menjual produk kecantikan dan kesehatan menjual obat jerawat. Produk-produk itu biasanya mengandung benzoil peroksida (benzoyl peroxide), asam salisilat (salicylic acid), dan minyak tea tree[7]Awasi reaksi kulit kamu dan bila terjadi radang, iritasi atau kulit menjadi kering, segera hentikan perawatan dan temui dokter ahli.

  • Benzoil peroksida (benzoyl peroxide) gunanya untuk membunuh bakteri penyebab jerawat, tetapi efeknya baru terasa setelah empat minggu pemakaian teratur. Asam salisiat (salicylic acid) bisa membersihkan pori-pori dan mengurangi benjolan atau radang kemerahan pada kulit, tetapi juga butuh waktu dan pemakaian teratur agar berkhasiat. Minyak tea tree adalah bahan yang lebih ringan untuk membunuh bakteri, tetapi sebelum dipakai harus diencerkan dulu.[8]
  • Biasanya perawatan jerawat yang sudah sedaerah memerlukan kombinasi beberapa perawatan. Bila dalam enam minggu jerawat kamu belum membaik maka kemungkinan besar kamu perlu menemui dokter ahli untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
  • Sulit untuk menentukan perawatan apa yang cocok untuk tiap orang. Perawatan yang cocok untuk satu orang, belum tentu cocok untuk orang lain. Ujung-ujungnya kita harus agak mencoba-coba alias trial and error.
  • Secara umum lebih disarankan untuk mencoba produk yang kandungan bahan aktifnya lebih rendah. Makin tinggi kandungan bahan aktifnya, lebih besar risiko terjadinya iritasi, kulit kering atau reaksi lainnya.
5

Temui dokter ahli. Bila obat-obat biasa yang dijual bebas tak mempan, mungkin kamu perlu menemui dokter ahli atau ahli kulit/dermatolog. Dokter umum juga bisa untuk memeriksa apakah yang kamu alami benar hanya jerawat biasa, mengoreksi bila perawatan yang kamu lakukan sendiri ada salahnya, dan memberikan resep antibiotik atau obat jerawat yang lebih kuat (seperti Retin-A). Kalau dermatolog bisa menyarankan perawatan apa yang paling tepat.

  • Dermatolog sering kali memberi resep untuk obat telan (obat oral), contohnya: antibiotik, retinoid atau vitamin A derivatif dan juga kontraseptif oral (kontraseptif oral juga memiliki efek mengurangi jerawat; khusus untuk wanita). Obat telan khusus untuk kasus jerawat yang lumayan parah dan bisa ada efek sampingnya.[9]
  • Antibiotik biasanya diberikan untuk meredakan peradangan pada kulit atau jerawat yang parah. Pemakaian antibiotik oral biasanya kurang dari enam bulan karena efeknya berangsur-angsur akan melemah. Karena alasan itulah biasanya antibiotik dipakai sebagai tambahan atas perawatan lainnya yang berfokus pada penyebab jerawat.[10] Contoh antibiotik oral adalah: tetrasiklin (tetracycline), minosiklin (minocycline), dan doksisiklin (doxycycline).
  • Obat telan retinoid, Isotretinoin dan vitamin A derivatif adalah untuk kasus jerawat yang sungguh parah yang benar-benar tak mempan dengan perawatan lainnya. Efek samping dari Isotretinoin terasuk juga risiko depresi, kecenderungan bunuh diri, dan penyakit peradangan usus dan perut. Wanita hamil dan menyusui, atau wanita yang tengah berusaha mengandung sebaiknya tidak meminum Isotretinoin sama sekali demi menghindari risiko kecacatan janin.[11]
  • Kontraseptif oral hanya boleh dikonsumsi oleh wanita karena mengandung hormon wanita yang efeknya menangkal hormon pria yang cenderung menyebabkan jerawat. Baik pria maupun wanita sebenarnya memiliki kedua jenis hormon ini, tetapi ketidakseimbangan bisa menyebabkan jerawat. [12] Walau tak selalu terjadi, kadang ada efek samping yang dapat timbul, dan kadang perawatan cara ini harus dengan pengawasan ginekolog. Kontraseptif oral mirip seperti antibiotik, yang mana setelah beberapa bulan akan berangsung-angsur melemah efeknya.[13]

SUMBER

Leave a Reply